Bumerang Produk Share ISP

May 17
2010

Banyak ilmu yang diajarkan dibangku kuliah dan dalam literatur buku yang menyatakan, bahwa dengan menciptakan produk yang bagus, berkualitas, murah & mempunyai nilai deferensiasi. maka penjualan produk itu sendiri tidak akan menemui halangan yang berarti.

Dalam kesempatan ini saya akan mengulas tentang pengemasan produkyang sesuai konsumen. Sebelumnya perlu saya tekankan bahwapengemasan produk yang saya maksud bukan kememasan produk. Pengemasan produk adalah membuat suatu produk dengan fiture atau bahan baku dalam jumlah tertentu, sedangkan Kemasan produk merupakan fisik luar.

Di era sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan yang mengemas produk dalam pengemasan yang kecil. Hal ini digunakan juga untuk perusahaanPenyedia Jasa Internet (ISP).

Dalam kemasan kecil, di harapkan perusahaan dapat menciptakan produk dengan harga murah dan konsumen kecil dapat membeli produk tersebut. Hal ini memang menimbulkan “simbiosis mutualisme” atau saling menguntungkan antara perusahaan dan konsumen kecil.

Mari kita evaluasi bersama strategi ini (khusus ISP) :

  • Dalam paket produk besar, pastilah harga juga mahal. Ct : price 1 Mbps dedicated adalah 1o  jt an ( 1 : 1 pelanggan).
  • Dengan paket produk kecil (share), harga jadi murah. Ct : price Share  Soho Up To 1 Mbps adalah 1 jt an, namun ini di bagi ke beberapa pelanggan (1 : 10 pelanggan).

Dengan strategi ini memang kelihatanya sangat menguntungkan bagi keduanya (jangka pendek), namun di lihat jauh ke depan stategi ini bisa menimbulkan “bumerang” bagi penyedia jasa ISP.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman penyedia ISP yogyakarta, Persepsi pelanggan tentang kecepatan 1 mbps dedicated dan kecepatan share Up To 1 mbps ternyata hampir sama. Padahal sudah dari awal di jelaskan, baik  dari presentasi & proposal tentang perbedaan paket produk tersebut.  Salah satu wawancara : “mas iva, saya berlanggan soho Up To 1 mbps kok cuma dapat 400 Kbps ya … harusnya minimal nya 50% donk dari Kuota (price 400 kbps : 4  jt an & cir soho : 128 kbps). “pak paulus & bu wanda”

Hal ini akan menimbulkan rasa tidak puas dari pelanggan dan menurunya kepercayaan pelanggan terhadap penyedia ISP tersebut. Jika rasa ketidak kepercayaan ini berlanjut dari waktu ke waktu dan pelanggan menyampaikan dan menginformasikan kejelekan atau ketidakpuasan terhadap calon pelanggan lain. Pastilah sudah dapat di tebak, bahwa perusahaan ISP akan kembali ke masa awal, yaitu masa dimana sulit mencari pelanggan.

Dengan kondisi di atas, perlu dicarikan strategi baru untuk mengembalikan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan Penyedia Jasa Internet secara bersama sama.

Beberapa faktor penyebabnya merosot nya pelanggan ISP Lokal :

  • Harga bandwitdh dari NAP masih tinggi.
  • Layanan telkom Speedy yang memberikan bandwitdh berlebih, untuk pelanggan baru.
  • regulasi & perijinan isp yang berbelit belit serta mahal.
  • Pembangunan infrastruktur BTS yang mahal & penggunaan frekuensi publik yang semakin banyak.
  • Persaingan yang tidak sehat antara isp lokal.

Mengulas Persaingan Bisnis ISP di Yogya

May 07
2010

Hampir 2 tahun saya telah menduduki jabatan marketing di salah satu perusahaan penyedia jasa internet atau lebih di kenal dengan Internet Service Provaider (ISP) di yogyakarta. Di waktu yang sesingkat itu, banyak sekali perubahan strategi penjualan yang di terapakan oleh perusahaan perusahaan ISP yogyakarta.

Berawal dari persaingan yang sehat atau tebih tepatnya dengan persaingan kualitas yang di iringi dengan pangsa pasar masing masing, sampai dengan persaingan yang saling mematikan antar perusahaan penyedia jasa.

Untuk saat ini saya akan coba mengulas, kenapa perusahaan perusahan ISP di yogyakarta saling menjatuhkan, padahal dahulu mereka harmonis dan berbagi pangsa pasar.

Setelah hadirnya produk layanan internet and user dari perusahaan Telkom (speedy), yang dahulu Telkom hanya menyediakan koneksi internet untuk ISP, ternyata sangat mempengaruhi pola pikir pengguna internet. Para pengguna internet memang sangat di untungkan dengan kahadiran produk speedy tersebut, namun untuk perusahaan penyedia jasa internet daerah, hal ini sangat memukul. Dengan harga beli koneksi internet ISP ke NAP (Telkom) yang masih mahal, produk speedy di tawarkan dengan harga yang sangat jauh di bawah harga beli ISP, walaupun produk speedy berbeda dari produk layanan internet ISP (ASTINET).

Hal yang perlu saya garis bawahi adalahperubahan pola pikir pengguna internet” di yogykarta. Hal ini yang menjadi cikal bakal persaingan yang tidak sehat antara penyedia jasa internet (ISP). Sekali lagi memang saya akui, bahwa produk yang di tawarkan Telkom (speedy) berbeda dengan produk yang di jual ke ISP, namun berkaitan dengan “harga layanan” yang di jual terlalu jauh antara produk speedy VS pruduk ISP (dedicated). Sangat sulit bagi perusahaan jasa internet (ISP) lokal untuk tetap eksis.